Selasa, 15 Mei 2012

Analisis Pupuh Pucung

PUPUH PUCUNG
Hayu batur urang diajar sing suhud
Ulah lalawora
Bisi engke henteu naek
Batur seuri urang sumegruk nalangsa

Naon-naon piwarangna bapa guru
Pigawe sing gancang
Omat ulah rek talangke
Piwurukna regepkeun  ku sarerea

TANDAK/PANAMBIH
Hayu batur urang diajar sing suhud
Ulah lalawora
Bisi engke henteu naek
Batur seuri urang sumegruk nalangsa

Hirup mencil embung ngahiji jeung batur
Eta goreng pisan
Moal aya gotong royong
Mending mana rea batur jeung nyorangan


A.    Pendahuluan
Indonesia memiliki begitu banyak kebudayaan dan kesenian. Diantaranya kesenian yang ada di Jawa Barat yaitu pupuh. Pupuh adalah karya sastra berbentuk puisi yang termasuk bagian dari khazanah sastra Sunda.  Pupuh adalah seni musik masyarakat suku sunda yang merupakan sastra lisan, suatu sastra yang diperoleh dari turun temurun melalui ucapan. Pupuh yang ada di daerah sunda  pada awalnya berasal dari khasnah jawa, kemudian masuk ke dalam kesusastraan sunda pada abad ke 17 Masehi. Pupuh itu terikat oleh patokan (aturan) pupuh, berupa guru wilangan, guru lagu, dan watek. Guru wilangan adalah jumlah engang (suku kata) tiap padalisan (larik/baris). Guru lagu adalah sora panungtung (bunyi vokal akhir) tiap padalisan. Sedangkan watek adalah karakteristik isi pupuh. Pupuh yang sudah dikenal di jawabarat, daerah pasundaan terdapat 17 pupuh, yaitu: 1. Kinanati, 2. Asmarandana, 3. Wirangrong, 4. Gambuh, 5.Jurudemung, 6. Balakbak, 7. Gurisa, 8. Lambang, 9. Landrang. 10. Mijil, 11. Magatru, 12. Pucung, 13. Maskumambang, 14. Sinom, 15. Pangkur, 16. Durma, 17. Dangdanggula . 4 macam pupuh yang ada di atas ini ada yang dikatagorikan sebagai pupug ageung, yang meliputi: Kinanti, Sinom, Asmarandana, Dangdanggula dan yang selebihnya termasuk pupuh Alit. Tembang pupuh ini biasanyanya dinyanyikan dengan diiringi musik kecapi. Setiap pupuh terdapat lagu “panambih” sebagai penutup pupuh tersebut, sedangkan bait-bait sebelum lagu panambih disebut “mamaos”. Orang yang menyanyikan pupuh disebut juru tembang atau juru mamaos.

B.     Pengelompokan Pupuh
Menurut konsep penciptaannya, yaitu pujangga jawa, pupuh dapat dibedakan menjadi: (1) Sekar Kawi, (2) Sekar Ageng, (3) Sekar Tengahan, (4) Sekar Alit.
1.      Sekar Kawi: merupakan terjemahan dari puisi india, dialih-bahasakan ke dalam bahasa jawa oleh para pujangga jawa. Bisa disebut juga macasan Lagu (wawacan pertama). Yang termasuk sekar kawi diantaranya: Dandaka, Candaka, pugarya.
2.      Sekar Ageng: sekar ageng bisa disebut juga Macaro lagu atau Tembang Gede. Disusun oleh Prabu Dasiwara pada tahun 1088 Masehi. Pupuh ini meliputi diantaranya pupuh Kinanti, Sinom, Asmarandana dan Dangdanggula.
3.      Sekar tengahan: sekar tengahan bisa disebut Macatri Lagu atau Sekar Dagelan. Yang disusun oleh Prabu Daniswara di Medang Kemulan pada tehun 1090 Masehi. Tembang yang termasuk kedalam sekar alit yaitu: Balakbak Gambuh IV, Juru Demung, Wirangronng, Maskumambang, Magatru.
4.      Sekar Alit: sekar alit bisa disebut juga Macapat lagu atau Tembang Cilik. Yang disusun oleh Prabu Banjaran Sari di Sigaluh pada tahun 1269 Masehi. Yang termasuk kedalam pupuh sekar alit ini yaitu: Durma, Kinanti, Pangkur, Pucung.

C.    Proses penciptaan pupuh
Asal mula penciptaan pupuh, pada awalnya sebuah tembang yang dinyanyikan dikalangan ningrat/elit, kemudian berkembang di pendopo. Bupati memerintahkan kepada bawahannya untuk menyebarluaskan pupuh tersebut kepada masyarakat di tiap-tiap daerah untuk menyampaikan nasehat-nasehat melalui pupuh, berupa nasehat hubungan manusia dengan sang pencipta yaitu Allah swt, dengan alam, dengan hewan, dan dengan sesama manusia.
Untuk membuat pupuh ada aturan-aturan yang harus diperhatikan yaitu:
1.      jumlah baris dalam tiap bait, setiap pupuh memilliki aturan-aturan jumlah baris yang berbeda-beda, jumlah baris/ padalisan dalam setiap bait sangat menentukan bentuk pupuh. Dalam pupuh pucung ini harus memiliki jumlah baris dalam setiap baitnya itu yaitu 4 baris.
2.      guru wilangan: guru wilangan yaitu jumlah suku kata dalam tiap bait. Aturan guru wilangan (suku kata) dalam pupuh yaitu harus terdiri dari 6-12 suku kata dalam tiap barisnya. Aturan/patokan suku kata dalam tiap bait pada pupuh pucung ini yaitu:
·         baris pertama         : 12 suku kata/wilangan
·         baris ke dua           : 6 suku kata/wilangan
·         baris ke tiga           : 8 suku kata/wilangan
·         baris ke empat       : 12 suku kata/wilangan
3.      guru lagu: guru lagu yaitu bunyi vokal akhir dalam tiap barisnya (a-i-u-e-o). aturan/ patokan guru lagu/vokal akhir dalam tiap bait pada pupuh pucung yaitu:
·         baris pertama         : u
·         baris ke dua           : a
·         baris ke tiga           :  e/o
·         baris ke empat       : a

D.    Tema dan Isi Pupuh Pucung
Pupuh Pucung ini bertemakan tentang pendidikan. Isi pupuh pucung ini mengajak kepada anak-anak supaya tekun dalam menuntut ilmu, serta memberi nasehat kepada anak-anak supaya menyimak atau memperhatikan segala sesuatu yang diajarkan oleh guru dan juga memberi nasehat supaya segera mengerjakan tugas-tugas yang diperintah oleh guru.
Dalam pupuh pucung  ini tidak hanya berisikan nasehat-nasehat supaya anak-anak rajin belajar, tetapi dalam pupuh pucung ini berisikan nasehat supaya anak-anak akrab dengan teman-temannya, supaya anak-anak berbaur atau saling berinteraksi satu-sama lain. Karena ketika siswa berinteraksi dengan teman-temannya, secara tidak langsung anak-anak tersebut belajar saling menghargai satu-sama lain dan akan terciptanya sikap gotong royong atau sikap kebersamaannya, saling menghargai satu-sama lain.

E.     Watak Pupuh Pucung
Setiap pupuh memiliki wataknya masing-masing dan watak setiap pupuh dapat menjadi identitas pupuh tersebut. pupuh pucung ini memiliki watak untuk menggambarkan perintah, nasehat dan gotong royong/kebersamaan.

F.     Tujuan Pupuh Pucung
Pada awalnya pupuh dibuat yaitu untuk bacaan amanat dari pemerintah ke warga, yang di sampaikan oleh para abdi dalem kerajaan/pemerintahan untuk menggambarkan rasa kecintaan kita pada negeri sendiri “lemah cai”. Isi pupuh bertujuan untuk mengingatkan kepada masyarakat tentang hubungan manusia dengan sang pencipta yaitu Allah swt, dengan alam, binatang dan dengan sesama manusia.
Karena setiap pupuh itu memiliki tujuan atau maksud yang berbeda-beda. Tujuan penciptaan pupuh pucung ini yang paling utama yaitu untuk sarana penyampaian nasehat-nasehat kepada siswa atau anak-anak melalui tembang atau pupuh. Supaya anak-anak merasa senang dan dapat menerima nasehat tersebut dengan senang hati tanpa adanya kesan memarahi atau menasehati anak dengan paksaan. Sehingga anak-anak dapat menerima nasehat tersebut dengan senang hati dan nasehat-nasehat tersebut selalu dapat diingat oleh anak-anak karena dapat dinyanyikan kapan saja dan dimana saja.

G.    Stuktur teks
(Mamaos)
1.      Bait pertama
a.      Hayu batur urang diajar sing suhud
1)      Formula sintaksis
Hayu batur: Ket.ajakan
Urang: S, Nom, Pelaku
Diajar: P, Verba, Perbuatan
Sing suhud: Ket.cara
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 12
                    - Guru lagu                : u
3)      Asonansi Vokal           : u                                -  Aliterasi  konsonan  : r
4)      Diksi arkeik : -
b.      Ulah lalawora
1)      Formula sintaksis: tidak ada karena suktur sintaksisnya tidak lengkap
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 6
                           - Guru lagu               : a
3)      Asonansi Vokal           : a                                - Alitersai konsonan    : l
4)      Diksi arkeik     : ulah lalawora, artinya jangan main-main/ jangan tidak
 Serius
c.       Bisi engke henteu naek
1)      Formula sintaksis: tidak ada karena suktur sintaksisnya tidak lengkap
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 8
                          - Guru lagu    : e
3)      Asonansi Vokal           : e                       - Alitrasi konsonan   : k dan n
4)      Diksi arkeik     : bisi engke henteu naek, artinya takut nanti tidak naik
  Kelas

d.      Batur seuri urang sumegruk nalangsa
1)      Formula sintaksis
batur, urang: S, nomina, pelaku
seuri, sumegruk: P, Verba, perbuatan
nalangsa: pelengkap   
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 12
                          - Guru lagu    : a
3)      Asonansi Vokal           : a                                - Alitrasi konsonan      : k
4)      Diksi arkeik     : -
2.      Bait kedua
a.      Naon-naon piwarangna bapak  guru
1)      Formula sintaksis: tidak ada karena suktur sintaksisnya tidak lengkap
2)      Analisis bunyi
a)      Irama         :
b)      Ritma        : - Guru Wilangan       : 12
                          - Guru lagu    : u
3)      Asonansi Vokal           : a                    - Alitrasi konsonan      : k dan n
4)      Diksi arkeik     : -
b.      Pigawe sing gancang
1)      Formula sintaksis: tidak ada karena suktur sintaksisnya tidak lengkap
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 6
                          - Guru lagu                : a
3)      Asonansi Vokal           : a                                - Alitrasi Konsonan     : g
4)      Diksi arkeik     : -
c.       Omat ulah rek talangke
1)      Formula sintaksis: tidak ada karena suktur sintaksisnya tidak lengkap
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 8
                          - Guru lagu    : e
3)      Asonansi vokal            : a                    - Alitrasi konsonan      : t, k, dan l
4)      Diksi arkeik     : omat ulah rek talangke, artinya: awas jangan dinanti-
  Nanti atau terlalu santai
d.      Piwurukna regepkeun ku sarerea
1)      Formula sintaksis
Piwurukna: S, verba
Regepkeun: P, verba, perbuatan
Ku sarerea: O, nomina, penerima     
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 12
                          - Guru lagu   : a
3)      Asonansi Vokal         : u                                - Alitrasi konsonan      : k
4)      Diksi arkeik   : -
(Tandak/Panambih)
3.      Bait ke tiga
a.      Hayu batur urang diajar sing suhud
1)      Formula sintaksis
Hayu batur: ket.ajakan
Urang: S, nomina, pelaku
Diajar: P, verba, perbuatan
Sing suhud: ket.cara   
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma   :
b)      Rima        : - Guru Wilangan       : 12
                          - Guru lagu    : a
3)      Asonansi vokal            : u                                - Alitrasi konsonan      : r
4)      Diksi arkeik     : -
b.      Ulah lalawora
1)      Formula sintaksis: tidak ada karena suktur sintaksisnya tidak lengkap
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 6
                          - Guru lagu                : a
3)      Asonansi Vokal           : u                                - Alitrasi konsonan      : l
4)      Diksi arkeik     :  ulah lalawora, artinya jangan main-main atau jangan
  tidak serius
c.       Bisi engke henteu naek
1)      Formula sintaksis: tidak ada karena suktur sintaksisnya tidak lengkap
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 8
                           - Guru lagu   : e
3)      Asonansi vokal            : e                     - Alitrasi konsonan     : k dan n
4)      Diksi arkeik     : bisi engke henteu naek, artinya: takut nanti tidak naik
  kelas
d.      Batur seuri urang sumegruk nalangsa
1)      Formula sintaksis
batur, urang: S, nomina, pelaku
seuri, sumegruk: P, Verba, perbuatan
nalangsa: pelengkap   
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 12
                          - Guru lagu    : a
3)      Asonansi vokal            : a dan u                      - Alitrasi konsonan      :  r
4)      Diksi arkeik     : -
4.      Bait keempat
a.      Hirup mencil embung ngahiji jeung batur
1)      Formula sintaksis
S: Hirup mencil
P: Embung ngahiji
Ket.penyerta: Jeung batur
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan rima      :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 12
  - Guru lagu              : u
3)      Asonansi vokal: u dan I                     - Alitrasi konsonan: r, h, m, dan n
4)      Diksi arkeik : hirup mencil, artinya: hidup menyendiri/terpisah

b.      Eta goreng pisan
1)      Formula sintaksis
Eta: S, verba,
Goreng pisan: P, Adjektiva, keadaan
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan rima      :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 6
                          - Guru lagu                : a
3)      Asonansi vokal            : a dan e                       - Alitrasi konsonan      :   
4)      Diksi arkeik     : -
c.       Moal aya gotong royong
1)      Formula sintaksis
Moal aya: P, verba, keadaan
Gotong royong: S, verba,
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 8
                          - Guru lagu    : o
3)      Asonansi vokal            : o                                - Alitrasi konsonan      : y
4)      Diksi arkeik     : moal aya Gotong royong, artinya: tidak ada saling
 tolong menolong atau kebersamaannya.
d.      Mending mana rea batur jeung nyorangan
1)      Formula sintaksis
S: rea batur jeung nyorangan
P: mending mana

2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 12
                          - Guru lagu                : a
3)      Asonansi vokal            : u                                - Alitrasi konsonan      : r
4)      Diksi arkeik     : -


H.    Konteks Pertunjukan
Biasanya pupuh pucung ini dinyanyikan pada saat kegiatan  pembelajaran disekolah. Selain untuk kegiatan pembelajaran disekolah, pupuh pucung ini biasanya dinyanyikan dalam rangka acara kesenian dan kebudayaan, juga pupuh pucung ini di nyanyikan dalam acara perlombaan.

I.       Fungsi Pupuh Pucung
Pupuh Pucung ini berfungsi sebagai salah  satu sarana pendidikan, maksudnya yaitu sebagai salah satu media pembelajaran siswa di sekolah maupun dimasyarakat. Selain sebagai salah satu media pendidikan, pupuh Pucung ini berfungsi sebagai hiburan yang mendidik bagi anak-anak dan juga sebagai pelestarian kesenian dan kebudayaan.

J.      Kelebihan dan Kekurangan Pupuh Pucung
Kelebihan pupuh pucung ini dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan baik di sekolah, di rumah atau dilingkungan masyarakat. Karena berisi tentang ajakan dan nasehat-nasehat supaya anak-anak sungguh-sungguh dalam belajar dan juga pupuh pucung ini mengajarkan pada anak-anak supaya belajar bergotong royong atau pentingnya kebersamaan dengan sesama manusia. Dari segi bahasa, pupuh pucung ini mudah dimengerti oleh anak-anak karena menggunakan bahasa yang transparan atau langsung.
Kekurangan pupuh pucung ini yaitu, pupuh ini hanya bisa digunakan pada jenjang pendidikan SD saja, tidak mencakup seluruh jenjang pendidikan karena kata-kata yang terdapat dalam pupuh ini lebih tertuju untuk anak-anak yang masih kecil. Memsang nasehat-nasehat yang ada dalam pupuh ini dapat juga di gunakan oleh remaja/dewasa, tetapi pada kenyataannya pupuh pucung ini lebih sering ditujukan dan dinyanyikan oleh anak-anak SD. Selain itu dari segi pemilihan kata, kurang menonjolkan diksi atau unsur artistik katanya. Sehingga kata-kata atau bahasa yang terdapat dalam pupuh pucung ini terkesan biasa saja.

K.    Perkembangan Pupuh
Seiring berjalanya waktu pupuh memiliki perkembangan. Baik dari bentuk, pola syair,  musik pengiring dan lain-lain, diantarnya yaitu:
1. Dalam Bentuk Cianjuran
Cianjuran atau asal istilahnya seni mamaos, merupakan salah satu seni Sunda yang berasal dari Cianjur. Alat music yang digunakan hanya kecapi saja.
2. Dalam Bentuk Ciawian
Ciawian merupakan salah satu kesenian Sunda yang berasal dari Ciawi Tasikmalaya. Bentuk ciawian hanya dibawakan oleh vokal saja. lagu-lagunya pun umumnya dalam laras salendro tetapi untuk pola syair menggunakan pola pupuh.
3. Dalam Bentuk Cigawiran
Cigawiran adalah salah satu jenis seni suara sunda dalam bentuk tembang. Kesenian ini lahir di daerah Cigawir Garut. Yang merupakan lahir dari daerah pesantren Cigawir. Yang memiliki fungsi untuk pembelajaran agama, banyak menggunakan laras pelog, madenda, dan salendro, pola sastranya menggunakan pupuh misalnya dalam lagu Cigawiran rumpaka pupuh dangdanggula.


4. Dalam Bentuk Pupuh Raehan
Perkembangan yang paling terbaru yaitu pupuh kreasi hasil karya dosen Karawitan STSI Bandung H. Yusuf Wiradiredja,S.Kar. M.Hum yang sering di sapa Yus Wiradiredja ini, merupakan perkembangan yang berbeda dari Cianjuran, Cigawiran dan Ciawian. Bedanya Pupuh kreasi ini dengan pupuh yang umum yaitu pada pupuh kreasi alat musik yang digunakan lebih banyak diantaranya kecapi, kendang, dan instrumen-instrumen sendiri hasil modifkasi Yus Wiradiredja sehingga menciptakan suasana yang lain sedangkan pupuh biasanya tanpa iringan atau hanya menggunakan kecapi saja.
Tetapi zaman sekarang sangat berbanding terbalik dengan zaman dahulu. kelestarian pupuh saat ini sudah sedikit tersingkirkan di masayarakat, khususnya di masyarakat suku Sunda. Sekarang sudah hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui dan melestarikan kesenian pupuh. Keberadaan pupuh ini sudah pulai terlupakan oleh generasi sekarang, dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu: pertama, sekarang-sekarang ini merupakan era globalisasi, sehingga kebudayaan-kebudayaan luar negeri dengan mudahnya masuk ke Negara kita dan mempengaruhi remaja-remaja saat ini untuk mengikuti kebudayaan luar sehingga kebudayaan yang dimilikinya terlupakan. Kedua, anggapan remaja-remaja saat ini bahwa lagu-lagu pupuh itu merupakan lagu zaman dulu “jadul” dan hanya cocok untuk kalangan orang tua saja dan beranggapan bahwa tembang pupuh ini kurang modern dibandingkan dengan lagu-lagu pop saat ini yang lebih modern baik dari segi nada ataupun liriknya. Ketiga, lingkungan masyarakat, keluarga dan sekolah kurang mendukung dalam pelestarian kesenian pupuh ini, sehingga wajar saja apabila remaja saat ini kurang atau bahkan tidak mengetahui dan meminati pupuh.
Apabila keadaan ini terus saja dibiarkan, lama-kelamaan kesenian tradisional pupuh ini akan terancam punah atau bisa saja di klaim oleh Negara lain, seperti kasus reog Ponoorogo tempo dulu. Salah satu upaya kita untuk tetap mempertahankan kesenian pupuh, kita harus bersama-sama mendukung pelestarian pupuh ini, diantaranya yaitu dengan cara: mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan pupuh, membuat atau mendukung acara-acara yang berkaitan dengan pupuh, memperkenalkan kesenian pupuh ini pada generasi muda dan memberikan motivasi-motivasi pada mereka supaya mereka menyayangi dan mencintai pupuh dan kesenian tradisional lainnya.

1 komentar: