Selasa, 15 Mei 2012

Merajalelanya Pembabatan Hutan


Pembabatan Hutan

Berita tentang bencana alam sudah menjadi pokok pembicaraan dimasyarakat baik media cetak maupun media televisi. Bencana alam yang sering terjadi sekang ini diantaranya yaitu banjir, atau longsor. Semua kejadian tersebut diantaranya yaitu disebabkan oleh pembabatan hutan yang terus menerus tanpa adanya reboisasi atau penanaman hutan kembali. Selain bencana alam yang sering terjadi, dampak negatif dari penebangan hutan yaitu populasi binatang-binatang yang ada di hutan semakin langka karena tempat berlindung dan tempat untuk mencari makan bitang-binatang itu sudah tidak ada dikarenakan tumbuhan-tumbuhan yang ada di hutan sudah tidak ada.
Padahal pemerintah sudah sering mengingatkan kepada masyarakat supaya tidak menebang pohon-pohon yanga ada di hutan secara berlebihan dan pemerintah juga menghimbau kepada masyarakat supaya menanam pohon kembali apabila sudah menebang hutan, supaya hutan tetap terjaga kelestariannya. Tetapi sebagian masyarakat tetap tidak menghiraukan peringatan dari pemerintahan, orang-orang yang tidak bertanggung jawab tersebut masih saja menebang pohon secara berlebihan dan merekapun tidak menanam kembali pohon yang yang tadi mereka tebang.
Kemudian Soni Farid Maulana seorang penyair juga merasa prihatin terhadap hutan-hutan di Indonesia yang sudah gundul. Soni pun menulis puisi yang berjudul “Tusuk Gigi” puisi tersebut berisi tentang jeritan huta-hutan karena hutan-hutan tersebut sudah mulai gundul, seperti yang diungkapkan dalam larik puisi soni yaitu “Ada suara hutan menjerit”. Selain jeritan hutan yang pohon-pohonya sudah mulai gundul. Soni juga melihat dari sissi lain seperti dalam judul puisinya yaitu “tusuk gigi”. Kita semua dapat ambil contoh dari tusuk gigi saja dapat meyebabkan menebangan hutan yang sangat besar-besaran. Tusuk gigi memang benda kecil, tapi apabila tusuk gigi tersebut disatukan, maka tusuk gigi tersebut akan menjadi sekumpulan kayu-kayu. Bayangkan saja apabila satu pabrik saja yang membuat tusuk gigi, berapa pohon yang di tebang dalam satu hari kemudian di kalikan dengan pabrik-pabrik tusuk gigi yang ada di Indonesia, maka banyak sekali pohon yang ditebang dalam satu hari hanya untuk pembuatan tusuk gigi saja.
Soni juga menyebutkan dalam larik puisinya yaitu “Tanah rumput/ Keong lumpur yang mati” maksud dari larik puisi tersebut yaitu banyak tanaman dan binatang-binatang yang mati akibat dari penebangan hutan. Kemudian dalam larik puisi  tusuk gigi juga “cacing-cacing menyuburkan pepohonan/Tapi hutan demi hutan lenyaplah sudah”, Cacing-cacing didalam tanah memang masih ada dan cacing-cacing tersebut menyuburkan tanaman-tanaman, tetapi cacing-cacing tersebut sudah tidak dapat menyuburkan pohon-pohon lagi dikarenakan pohon-pohon nya pun sudah tidak ada.
Dalam larik puisi tersebut juga di ungkapkan “Yang lumpur disapu banjir / disikat lumpur yang disapu banjir”, dalam larik tersebut ditekankan kata disapu banjir, berarti dalam puisi tersebut Soni menyebutkan akibat dari penebangan hutan yang secara besar-besaran tersebut mengakibatkan banjir dan longsor yang di ibaratkan seperti menyapu lumpur. Selain banjir tanpa disadari dampak buruk dari penebangan hutan tersebut yaitu berdampak buruk pada pendidikan anak-anak karena populasi binatang-binatang yang ada di hutan sudah tidak ada dan anak-anak pun hanya bisa melihat dalam buku-bku atau gambarnya saja karena binatang-binatang yang ada di hutan sudah punah, anak-anak tersebut tidak dapat melihat binatang-binatangyana aslinya.
Kita sebagai generasi penerus sebaiknya harus menjaga hutan-hutan yang ada sekarang ini, karena apabila kita tidak menjaga dan melestarikan hutan-hutan yang masih sedikit tersisa maka generasi penerus selajutnya tidak akan mengetahui tentang wujud asli dari hutan dan wujud asli dari binatang-binatang yang ada di hutan.



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar