Rabu, 16 Mei 2012

PENGGUNAAN BAHASA


                                       PENGGUNAAN BAHASA
Bahasa memang hal yan paling penting ketika kita berkomunikasi dengan seseorang, karena ketika kita ingin menyampaikan perasaan atau mengungkapkan pikiran kita, pasti dengan menggunakan bahasa.  Ada yang menyebutkan bahwa bahasa seseorang itu mencerminkan kepribadian seseorang. Banyak orang yang saling berselisih atau seseorang itu makin akrab denga yang lain karena bahasa yang digunakan seseorang itu. Oleh karena itu jagalah bahasa yang kita gunakan dalam kehidupan kita sehari-hari, karena ada ungkapan bahwa ucapan adalah doa. Kita harus pintar-pintar mengetahui mepakaian bahasa yang kita gunakan. Kita juga harus bisa menyesuaikan bahsa kita kengan orang yang kita jak bicara, supaya tercitanya komunikasi yang baik.
Berkomunikasi tidak hanya ketika mengoblol langsung denga orang yana kita jak bicara, tetapi juga berkomuikasi dapat kita lakuakan ketika kita berpidato, berceramah, menulis surat atau yang lainnya. Kita haru biasa menyesuaikan bahasa yang kita gunakan denga orang yang kita ajak bicara, misalnya ketika kita sedanga berpidato atau kita sedang melakukan ceramah di kampong-kampung, bahasa yang kita gunmakanpun harus disesuaikan dengan orang-orang tersebut, kita jangan menggunakan baha-bahasa ilmiah yang tidak dimengerti oleh orang-orang yang mendengarkan pidato kita, karena apabila kita menggunakan bahasa ilmiah atau bahasa yang kurang dimengerti oleh mereka maka isi materi yang kita sampaikan tidak akan sampai atau tidak akan bida dimengerti oleh mereka yang mendengarkannya.
Begitu pula ketika kita berbicara denga orang yang umurnya di atas kita atau lebih tua dari kita, kita harus menggunakan kata-kata yang santun. Jangan samakan bahasa kita yang kita gukan dengan sehari-hari denga teman kita kemdian kiata gunakan denganbahasa yang kita gukana ketika kita berbicata ke orang yang umurnya lebih tua dari kita.
Kemudian ketika kita sedang erasa emosi kepada seseorang kiata kijuga harus sebisa munggin mengontrol bahasa yang akan kita gunakan, karena ketika kita sedang emosi kita biasanya tidak bisa mengontro bahasa yang kita keluarkan. Banyak dari mereka ketika mereka sedang emosi, mereka mengeluarkan kata-kata yang kasar tau kurang baik yang kemuadian akan memperburuk suasana dianatara mereka.
Pada intinya selain kita cerdah intelektual, kita juga harus cerdas emosional (dapat mengendalikan perkataan kita ketika sedang emisi) dan cerdas sosial (dapat menyesuaikan perkataan kita dengan situasi dan orang yang kita ajak berbicara).

Selasa, 15 Mei 2012

Merajalelanya Pembabatan Hutan


Pembabatan Hutan

Berita tentang bencana alam sudah menjadi pokok pembicaraan dimasyarakat baik media cetak maupun media televisi. Bencana alam yang sering terjadi sekang ini diantaranya yaitu banjir, atau longsor. Semua kejadian tersebut diantaranya yaitu disebabkan oleh pembabatan hutan yang terus menerus tanpa adanya reboisasi atau penanaman hutan kembali. Selain bencana alam yang sering terjadi, dampak negatif dari penebangan hutan yaitu populasi binatang-binatang yang ada di hutan semakin langka karena tempat berlindung dan tempat untuk mencari makan bitang-binatang itu sudah tidak ada dikarenakan tumbuhan-tumbuhan yang ada di hutan sudah tidak ada.
Padahal pemerintah sudah sering mengingatkan kepada masyarakat supaya tidak menebang pohon-pohon yanga ada di hutan secara berlebihan dan pemerintah juga menghimbau kepada masyarakat supaya menanam pohon kembali apabila sudah menebang hutan, supaya hutan tetap terjaga kelestariannya. Tetapi sebagian masyarakat tetap tidak menghiraukan peringatan dari pemerintahan, orang-orang yang tidak bertanggung jawab tersebut masih saja menebang pohon secara berlebihan dan merekapun tidak menanam kembali pohon yang yang tadi mereka tebang.
Kemudian Soni Farid Maulana seorang penyair juga merasa prihatin terhadap hutan-hutan di Indonesia yang sudah gundul. Soni pun menulis puisi yang berjudul “Tusuk Gigi” puisi tersebut berisi tentang jeritan huta-hutan karena hutan-hutan tersebut sudah mulai gundul, seperti yang diungkapkan dalam larik puisi soni yaitu “Ada suara hutan menjerit”. Selain jeritan hutan yang pohon-pohonya sudah mulai gundul. Soni juga melihat dari sissi lain seperti dalam judul puisinya yaitu “tusuk gigi”. Kita semua dapat ambil contoh dari tusuk gigi saja dapat meyebabkan menebangan hutan yang sangat besar-besaran. Tusuk gigi memang benda kecil, tapi apabila tusuk gigi tersebut disatukan, maka tusuk gigi tersebut akan menjadi sekumpulan kayu-kayu. Bayangkan saja apabila satu pabrik saja yang membuat tusuk gigi, berapa pohon yang di tebang dalam satu hari kemudian di kalikan dengan pabrik-pabrik tusuk gigi yang ada di Indonesia, maka banyak sekali pohon yang ditebang dalam satu hari hanya untuk pembuatan tusuk gigi saja.
Soni juga menyebutkan dalam larik puisinya yaitu “Tanah rumput/ Keong lumpur yang mati” maksud dari larik puisi tersebut yaitu banyak tanaman dan binatang-binatang yang mati akibat dari penebangan hutan. Kemudian dalam larik puisi  tusuk gigi juga “cacing-cacing menyuburkan pepohonan/Tapi hutan demi hutan lenyaplah sudah”, Cacing-cacing didalam tanah memang masih ada dan cacing-cacing tersebut menyuburkan tanaman-tanaman, tetapi cacing-cacing tersebut sudah tidak dapat menyuburkan pohon-pohon lagi dikarenakan pohon-pohon nya pun sudah tidak ada.
Dalam larik puisi tersebut juga di ungkapkan “Yang lumpur disapu banjir / disikat lumpur yang disapu banjir”, dalam larik tersebut ditekankan kata disapu banjir, berarti dalam puisi tersebut Soni menyebutkan akibat dari penebangan hutan yang secara besar-besaran tersebut mengakibatkan banjir dan longsor yang di ibaratkan seperti menyapu lumpur. Selain banjir tanpa disadari dampak buruk dari penebangan hutan tersebut yaitu berdampak buruk pada pendidikan anak-anak karena populasi binatang-binatang yang ada di hutan sudah tidak ada dan anak-anak pun hanya bisa melihat dalam buku-bku atau gambarnya saja karena binatang-binatang yang ada di hutan sudah punah, anak-anak tersebut tidak dapat melihat binatang-binatangyana aslinya.
Kita sebagai generasi penerus sebaiknya harus menjaga hutan-hutan yang ada sekarang ini, karena apabila kita tidak menjaga dan melestarikan hutan-hutan yang masih sedikit tersisa maka generasi penerus selajutnya tidak akan mengetahui tentang wujud asli dari hutan dan wujud asli dari binatang-binatang yang ada di hutan.



















Apresiasi Unsur Intrinsik Cerpen "Mbah Danu" karya Nugroho Notosusanto


A.    Pendahuluan
1.      Hakikat Apresiasi
a.       Pengertian Apresiasi
Apresiasi Sastra adalah suatu kegiatan mengakrabi karya sastra untuk mendapatkan penglaman, penghayatan dan penikmatan terhadap karya sastra tersebut hingga diperoleh kekayaan wawasan dan pengetahuan, kepekaan pikiran dan rasa terhadap berbagai segi kehidupan. Dari kegiatan tersebut akhirnya pula timbuk kecintaan dan penghargaan terhadap cipta sastra.
b.      Manfaat Apresiasi
Manfaat dari Apresiasi karya satra yaitu  memperkaya pengetahuan dan pengalaman tentang apresiasi karya satra tersebut supaya kita bisa mengapresiasikan kembali kepada anak didik. Kita dapat mengambil hikmah atau pelajaran dari cerita tersebut untuk bekal dalam kehidupan kita sehari-hari.
2.      Hakikat Cerpen
a.       Pengertian Cerpen
Cerpen adalah cerita pendek. Akan tetapi, berapa ukuran panjang pendek itu memang tidak ada aturannya, tidak ada satu kesepakatan diantara pengarang dan para ahli. Edgar Allan Poe (Nurgiyantoro, 2000:10) sastrawan kenamaan dai Amerika mengatakan bahwa “Cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam”.
Menurut Sactagraha Hoerip (Nurgiyantoro, 2000:11) Cerpen adalah karakter yang dijabarkan lewat rentetan kejadian daripada kejadian-kejadian itu sendiri satu persatu. Ada yang terjadi didalamnya lazim merupakan satu pengalaman atau penjelajahan dan reaksi mental itulah yang pada hakikatnya disebut cerpen.
b.      Ciri-ciri Cerpen
Nurgiyantoro (2000:12-13) berpendeapat bahwa cerpen mempunyi cirri sebagai berikut:
a)      Plot cerpen pada umumnya tunggal, hanya terdiri dari satu urutan peristiwa yang diikuti sampai cerita terakhir, maka konflik yang dibangun dan klimaks akan diperoleh pun bersifat tunggal pula.
b)      Cerpen berisi hanya satu tema
c)      Jumlah tokoh dalam cerpen terbatas
d)     Latar yang dibangun dalam cerpen hanya memerlukan pelukiskan secara garis besar saja, asal telah mampu memberikan suasana tertentu yang dimaksud.
Selanjutnya Sumardjo (2001:184) mengemukakan pula bahwa cirri khas cerpen adalah “(a) Cerpen hanya memiliki satu arti, satu krisis dan satu efek untuk pembacanya; (b) Pengarang cerpen hanya ingin mengemumukakan sesuatu hal secara tajam; dan (c) Cerpen menuntut penggunaan bahasa yang ekonomis”.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa secara umum cirri khas cerpen yaitu singkat, padu, tunggal, menarik, mengandung bahasa yang tajam, memiliki satu tema, dan satu arti, serta menggunakan bahasa yang ekonomis.
B.     Isi Apresiasi Cerita Pendek “Mbah Danu” Karya Nugroho Notosusanto
1.      Tema
Tema yang ada dalam cerita Mbah Danu ini diambil dari kehidupan sosial,  karena diangakat dari kehidupan sebagian masyarakat yang masih melakukan pengobatan dengan  cara berobat kepada dukun.
2.      Alur
a.       Satuan Peristiwa
a)      Terkenalah seorang dukun yang suka mengobati orang yang sakit, ia bernama Mbah Danu.
b)      Suatu hari seorang pelayan pensiunan jaksa yang bernama Nah sebulan lamanya ia demam. Ia mengeluarkan bunyi-bunyi binatang, mengeong, menggaum, berkoak-koak, dan terkadang meringkik seperti kuda.
c)      Mbah Danu yang dimintai pertolongan untuk mengobati Nah, kabarnya sedang turne, tetapi Mbah Danu akan segera pulang, lalu saat Mbah Danu datang Nah sedang mengeong seperti kucing.
d)     Mbah Danu mengobati Nah dengan menggunakan sapu lidi, kemudian sapu lidi itu dipukulkannya kearah pantat Nah.
e)      Dengan pengobatan yang dilakukan oleh Mbah Danu, Nah pun sembuh.
f)       Prabawa atau keahlian Mbah Danu sebagi tabib yang berhasil, mendapat tantangan dari menantu pak jaksa menantunya tersebut bernama Salyo ia datang kerumah Pak Jaksa.
g)      Konflik antara Mbah Danu dengan Mr.salyo pun berawal pada saat Mbah Danu mencoba menyembuhkan Nyonya Salyo yang sedang sakit, tetapi menurut Mr.Salyo pengobatan yang dilakukan oleh Mbah Danu tersebut akan membuat rusak rahim istrinya.
h)      Akibatnya Mbah Danu dilarang datang ke rumah Pak Jaksa saat penantunya tersebut datang ke rumah Pak Jaksa.
i)        Kemudian pertentanga antara Mr.Salyo dengan Mbah Danu dimulai ketika Mbok Rah salah satu pelayan Pak Jaksa sakit, kemudian Pak Jaksa meminta Mbah Danu agar mengobati Mbok Rah, tetapi Mr.Salyo menyarankan supaya Mbok Rah di obati oleh dokter.
j)        Mbok Rah pun keadaannya semakin parah, kemudian terjadilah ketegangan antara mertua dan menantu, Dokter Umar yang menangani Mbok Rah pun sudah tak bisa berbuat apa-apa kemudian Mbok Rah pun meninggal.
k)      Mulai terjadi perang dingin antara mertua dan menantu, Mr.Salyo merasa kecewa atas semua ini.
l)        Namun pada akhirnya semua terbongkar. Mbok Rah meninggal bukan karena kualat dari Mbah Danu akibat ketidak percayaanya Mr.Salyo terhadap Mbah Danu, tetapi karena Mbok Rah tidak memakan obat yang diberikan Dokter Umar ia malah mebuang obat tetsebut di bawah tempat tidurnya.
b.      Tahap Alur
a)Eksposisi (tahap permulaan)
·         Penulis terlebih dahulu memperkenalkan tokoh yang ada dalam cerpen Mbah Danu yaitu:
a.       Mbah Danu           d. Nyonya Salyo                                 g. Mbok Rah
b.      Pak Jaksa               e. Dokter Umar chattab
c.        Mr.Salyo              f. Nah
·         Tempat peristiwa terjadinya dalam cerpen Mbah Danu ini yaitu di Rembang, di rumah keluarga Pak Jaksa (pensiunan)
·         Peristiwa yang akan terjadi yaitu:
a.       Terkenalnya Mbah Danu sebagai orang yang suka mengobati orang yang sakit
b.      Terjadi konflik antara Mr.Salyo dengan Mbah Danu
c.       Terjadi perang dingin antara Mr.Salyo dengan mertuanya yaitu Pak.Jaksa
d.      Mbok Rah meninggal
e.       Terungkap penyebab kematian Mbok Rah
b)      Tahap pertikaian
      Ketidak percayaan Mr.Salyo terhadap pengobatan yang dilakukan oleh Mbah Danu.
c)Bagian Komplikasi
      Konflik: Pertikaian terjadi ketika Mbah Danu mengobati istri Mr.Salyo
      Krisis   : Terjadi karena ketidak percayaan Mr.salyo terhadap pengobatan yang dilakukan olah Mbah Danu, kemudian Mbah Danu pun dilarang masuk ke rumah Pak Jaksa ketika Mr.Salyo berada di rumah Pak Jaksa.
d)     Bagian puncak (klimaks)
      Puncak konflik terjadi ketika Mbok Rah (pelayan Pak Jaksa) sakit, kemudian Mr.Salyo mengusulkan supaya Mbok Rah ditangani oleh dokter yaitu dokter Umar. Tetapi setelah ditangani oleh dokter, Mbok Rah penyakitnya semakin parah dan akhirnya Mbok Rah meninggal, meninggalnya Mbok Rah ini dianggap karena kualat tidak mempercayai Mbah Danu.
e)  Tahap peleraian
      Tahap peleraian ini terjadi ketika Mr.Salyo mengetahui penyebab kematian Mbok Rah. Mbok Rah meninggal bukan karena kualat dari ketidak percayaan terhadap Mbah Danu tetapi karena Mbok Rah  tidak meminum obat yang diberikan dokter Umar kepada Mbok Rah, ia malah menyimpan obat nya di bawah tempat tidur Mbok Rah.



f)  Tahap akhir
Terungkaplah sebuah kebenaran bahwa Mbok Rah meninggal bukan karena kualat terhadap Mbah Danu, tetapi karena tidak meminum obat yang di berikan dokter kepadanya.
c.       Konflik
Konflik yang terjadi dalam cerpen Mbah Danu ini yaitu konflik manusia dengan manusia.
3.      Latar
a.       Latar Alam
b.      Latar Sosial
c.       Latar Tempat : Di rumah Pak Jaksa
d.      Latar Ruang : Di kamar rumah Pak jaksa
4.      Tokoh dan Penokohan
a.       Mbah Danu;
b.      Pak Jaksa;
c.       Mr.Salyo;
d.      Nyonya Salyo;
e.       Dokter Umar Chattab;
f.       Mbok Rah dan si Nah.
Penokohan merupakan cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh dan watak-wataknya itu dalam cerita. Dalam melakukan penokohan tokoh-tokoh dan watk tokoh dalam suatu cerita, pengarang melakukan denagn cara pengarang melukiskan tokoh-tokoh tersebut dengan cara analitik atau narasi. Nugroho Noto Susanto menerangkan langsung melalui uraian-uarian dalam cerpenya tentang tokoh-tokohnya. Nugroho menggambarkan dengan:
a.       Penggambaran fisik
Pengarang menggambarkan fisik Mbah Danu, yaitu misalnya wajahnya yang besar seperti tengkorak, kulitnya liat seperti belulang, pipimya selalu menonjol oleh susur tembakau yang ada dalam mulutnya, jalannya tegak seperti seorang maharani yang angkuh.
b.      Dialog
Dialog antara Umar Chattab dan Mr.Salyo seperti dalam kalimat berikut:
Dokter Umar Chattab “Kininennya sudah tuan berikan sebagai yang saya tetapkan? Tanyanya
“Ya”, jawab Nyonya Mrs.Salyo mendahului suaminya, “saya sendiri yang memberikan pil-pil itu kepada Mbok Rah”.
Dan percakapan atau dialog yang dilakukan antara Mr.Salyo dan Nyonya Salyo:
“kita telah berbuat sebaik mungkin”, kata Nyonya Salyo menghibur suaminya.

5.      Sudut Pandang
Sudut pandang terarah, Pengarang menceritakannya hanya terarahkan kepada Mbah Danu yang mengobati pasien-pasiennya dengan cara yang aneh dan tidak wajar.


6.      Gaya
Gaya bahasa yang ditampilkan oleh pengarang yaitu dengan menampilkan masalah-masalah yang disampaikan, karena pada saat klimaks (puncak cerita) pengarang menampilkan masalah keadaan Mbok Rah semakin parah keadaan tersebut semakin parah dianggap karena kualat tidak mempercayai Mbah Danu dan kemudian Mbok Rah meninggal.

C.     Penutup
1.      Simpulan
Cerpen Mbah Danu ini bertemakan kehidupan sosial. Menceritakan tentang keadaan khidupan masyarakat kota Rembang yang masih percaya terhadap hal-hal yang tahayul dari pada yang modern. Cerpen Mbah Danu ini memberikan amanat untuk kita supaya kita tidak melakukan hal yang sama seperti itu, karena itu semua adalah perbuatan yang sangat konyol (tidak masuk akal. Cobalah untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman modern ini. Hindari hal-hal kepercayaan yang terlalu berlabihan terhadap yang tahayul, karena itu bisa dikatakan dengan musrik yakni menduakan Allah.
2.      Saran
Diharapkan setelah membaca unsure-unsur intrinsik yang ada dalam cerita Mbah Danu ini, pembaca dapat mengambil hikmah atau pelajaran dari jalan cerita cerpen Mbah Danu ini.