Selasa, 15 Mei 2012

Analisis Pupuh Pucung

PUPUH PUCUNG
Hayu batur urang diajar sing suhud
Ulah lalawora
Bisi engke henteu naek
Batur seuri urang sumegruk nalangsa

Naon-naon piwarangna bapa guru
Pigawe sing gancang
Omat ulah rek talangke
Piwurukna regepkeun  ku sarerea

TANDAK/PANAMBIH
Hayu batur urang diajar sing suhud
Ulah lalawora
Bisi engke henteu naek
Batur seuri urang sumegruk nalangsa

Hirup mencil embung ngahiji jeung batur
Eta goreng pisan
Moal aya gotong royong
Mending mana rea batur jeung nyorangan


A.    Pendahuluan
Indonesia memiliki begitu banyak kebudayaan dan kesenian. Diantaranya kesenian yang ada di Jawa Barat yaitu pupuh. Pupuh adalah karya sastra berbentuk puisi yang termasuk bagian dari khazanah sastra Sunda.  Pupuh adalah seni musik masyarakat suku sunda yang merupakan sastra lisan, suatu sastra yang diperoleh dari turun temurun melalui ucapan. Pupuh yang ada di daerah sunda  pada awalnya berasal dari khasnah jawa, kemudian masuk ke dalam kesusastraan sunda pada abad ke 17 Masehi. Pupuh itu terikat oleh patokan (aturan) pupuh, berupa guru wilangan, guru lagu, dan watek. Guru wilangan adalah jumlah engang (suku kata) tiap padalisan (larik/baris). Guru lagu adalah sora panungtung (bunyi vokal akhir) tiap padalisan. Sedangkan watek adalah karakteristik isi pupuh. Pupuh yang sudah dikenal di jawabarat, daerah pasundaan terdapat 17 pupuh, yaitu: 1. Kinanati, 2. Asmarandana, 3. Wirangrong, 4. Gambuh, 5.Jurudemung, 6. Balakbak, 7. Gurisa, 8. Lambang, 9. Landrang. 10. Mijil, 11. Magatru, 12. Pucung, 13. Maskumambang, 14. Sinom, 15. Pangkur, 16. Durma, 17. Dangdanggula . 4 macam pupuh yang ada di atas ini ada yang dikatagorikan sebagai pupug ageung, yang meliputi: Kinanti, Sinom, Asmarandana, Dangdanggula dan yang selebihnya termasuk pupuh Alit. Tembang pupuh ini biasanyanya dinyanyikan dengan diiringi musik kecapi. Setiap pupuh terdapat lagu “panambih” sebagai penutup pupuh tersebut, sedangkan bait-bait sebelum lagu panambih disebut “mamaos”. Orang yang menyanyikan pupuh disebut juru tembang atau juru mamaos.

B.     Pengelompokan Pupuh
Menurut konsep penciptaannya, yaitu pujangga jawa, pupuh dapat dibedakan menjadi: (1) Sekar Kawi, (2) Sekar Ageng, (3) Sekar Tengahan, (4) Sekar Alit.
1.      Sekar Kawi: merupakan terjemahan dari puisi india, dialih-bahasakan ke dalam bahasa jawa oleh para pujangga jawa. Bisa disebut juga macasan Lagu (wawacan pertama). Yang termasuk sekar kawi diantaranya: Dandaka, Candaka, pugarya.
2.      Sekar Ageng: sekar ageng bisa disebut juga Macaro lagu atau Tembang Gede. Disusun oleh Prabu Dasiwara pada tahun 1088 Masehi. Pupuh ini meliputi diantaranya pupuh Kinanti, Sinom, Asmarandana dan Dangdanggula.
3.      Sekar tengahan: sekar tengahan bisa disebut Macatri Lagu atau Sekar Dagelan. Yang disusun oleh Prabu Daniswara di Medang Kemulan pada tehun 1090 Masehi. Tembang yang termasuk kedalam sekar alit yaitu: Balakbak Gambuh IV, Juru Demung, Wirangronng, Maskumambang, Magatru.
4.      Sekar Alit: sekar alit bisa disebut juga Macapat lagu atau Tembang Cilik. Yang disusun oleh Prabu Banjaran Sari di Sigaluh pada tahun 1269 Masehi. Yang termasuk kedalam pupuh sekar alit ini yaitu: Durma, Kinanti, Pangkur, Pucung.

C.    Proses penciptaan pupuh
Asal mula penciptaan pupuh, pada awalnya sebuah tembang yang dinyanyikan dikalangan ningrat/elit, kemudian berkembang di pendopo. Bupati memerintahkan kepada bawahannya untuk menyebarluaskan pupuh tersebut kepada masyarakat di tiap-tiap daerah untuk menyampaikan nasehat-nasehat melalui pupuh, berupa nasehat hubungan manusia dengan sang pencipta yaitu Allah swt, dengan alam, dengan hewan, dan dengan sesama manusia.
Untuk membuat pupuh ada aturan-aturan yang harus diperhatikan yaitu:
1.      jumlah baris dalam tiap bait, setiap pupuh memilliki aturan-aturan jumlah baris yang berbeda-beda, jumlah baris/ padalisan dalam setiap bait sangat menentukan bentuk pupuh. Dalam pupuh pucung ini harus memiliki jumlah baris dalam setiap baitnya itu yaitu 4 baris.
2.      guru wilangan: guru wilangan yaitu jumlah suku kata dalam tiap bait. Aturan guru wilangan (suku kata) dalam pupuh yaitu harus terdiri dari 6-12 suku kata dalam tiap barisnya. Aturan/patokan suku kata dalam tiap bait pada pupuh pucung ini yaitu:
·         baris pertama         : 12 suku kata/wilangan
·         baris ke dua           : 6 suku kata/wilangan
·         baris ke tiga           : 8 suku kata/wilangan
·         baris ke empat       : 12 suku kata/wilangan
3.      guru lagu: guru lagu yaitu bunyi vokal akhir dalam tiap barisnya (a-i-u-e-o). aturan/ patokan guru lagu/vokal akhir dalam tiap bait pada pupuh pucung yaitu:
·         baris pertama         : u
·         baris ke dua           : a
·         baris ke tiga           :  e/o
·         baris ke empat       : a

D.    Tema dan Isi Pupuh Pucung
Pupuh Pucung ini bertemakan tentang pendidikan. Isi pupuh pucung ini mengajak kepada anak-anak supaya tekun dalam menuntut ilmu, serta memberi nasehat kepada anak-anak supaya menyimak atau memperhatikan segala sesuatu yang diajarkan oleh guru dan juga memberi nasehat supaya segera mengerjakan tugas-tugas yang diperintah oleh guru.
Dalam pupuh pucung  ini tidak hanya berisikan nasehat-nasehat supaya anak-anak rajin belajar, tetapi dalam pupuh pucung ini berisikan nasehat supaya anak-anak akrab dengan teman-temannya, supaya anak-anak berbaur atau saling berinteraksi satu-sama lain. Karena ketika siswa berinteraksi dengan teman-temannya, secara tidak langsung anak-anak tersebut belajar saling menghargai satu-sama lain dan akan terciptanya sikap gotong royong atau sikap kebersamaannya, saling menghargai satu-sama lain.

E.     Watak Pupuh Pucung
Setiap pupuh memiliki wataknya masing-masing dan watak setiap pupuh dapat menjadi identitas pupuh tersebut. pupuh pucung ini memiliki watak untuk menggambarkan perintah, nasehat dan gotong royong/kebersamaan.

F.     Tujuan Pupuh Pucung
Pada awalnya pupuh dibuat yaitu untuk bacaan amanat dari pemerintah ke warga, yang di sampaikan oleh para abdi dalem kerajaan/pemerintahan untuk menggambarkan rasa kecintaan kita pada negeri sendiri “lemah cai”. Isi pupuh bertujuan untuk mengingatkan kepada masyarakat tentang hubungan manusia dengan sang pencipta yaitu Allah swt, dengan alam, binatang dan dengan sesama manusia.
Karena setiap pupuh itu memiliki tujuan atau maksud yang berbeda-beda. Tujuan penciptaan pupuh pucung ini yang paling utama yaitu untuk sarana penyampaian nasehat-nasehat kepada siswa atau anak-anak melalui tembang atau pupuh. Supaya anak-anak merasa senang dan dapat menerima nasehat tersebut dengan senang hati tanpa adanya kesan memarahi atau menasehati anak dengan paksaan. Sehingga anak-anak dapat menerima nasehat tersebut dengan senang hati dan nasehat-nasehat tersebut selalu dapat diingat oleh anak-anak karena dapat dinyanyikan kapan saja dan dimana saja.

G.    Stuktur teks
(Mamaos)
1.      Bait pertama
a.      Hayu batur urang diajar sing suhud
1)      Formula sintaksis
Hayu batur: Ket.ajakan
Urang: S, Nom, Pelaku
Diajar: P, Verba, Perbuatan
Sing suhud: Ket.cara
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 12
                    - Guru lagu                : u
3)      Asonansi Vokal           : u                                -  Aliterasi  konsonan  : r
4)      Diksi arkeik : -
b.      Ulah lalawora
1)      Formula sintaksis: tidak ada karena suktur sintaksisnya tidak lengkap
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 6
                           - Guru lagu               : a
3)      Asonansi Vokal           : a                                - Alitersai konsonan    : l
4)      Diksi arkeik     : ulah lalawora, artinya jangan main-main/ jangan tidak
 Serius
c.       Bisi engke henteu naek
1)      Formula sintaksis: tidak ada karena suktur sintaksisnya tidak lengkap
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 8
                          - Guru lagu    : e
3)      Asonansi Vokal           : e                       - Alitrasi konsonan   : k dan n
4)      Diksi arkeik     : bisi engke henteu naek, artinya takut nanti tidak naik
  Kelas

d.      Batur seuri urang sumegruk nalangsa
1)      Formula sintaksis
batur, urang: S, nomina, pelaku
seuri, sumegruk: P, Verba, perbuatan
nalangsa: pelengkap   
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 12
                          - Guru lagu    : a
3)      Asonansi Vokal           : a                                - Alitrasi konsonan      : k
4)      Diksi arkeik     : -
2.      Bait kedua
a.      Naon-naon piwarangna bapak  guru
1)      Formula sintaksis: tidak ada karena suktur sintaksisnya tidak lengkap
2)      Analisis bunyi
a)      Irama         :
b)      Ritma        : - Guru Wilangan       : 12
                          - Guru lagu    : u
3)      Asonansi Vokal           : a                    - Alitrasi konsonan      : k dan n
4)      Diksi arkeik     : -
b.      Pigawe sing gancang
1)      Formula sintaksis: tidak ada karena suktur sintaksisnya tidak lengkap
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 6
                          - Guru lagu                : a
3)      Asonansi Vokal           : a                                - Alitrasi Konsonan     : g
4)      Diksi arkeik     : -
c.       Omat ulah rek talangke
1)      Formula sintaksis: tidak ada karena suktur sintaksisnya tidak lengkap
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 8
                          - Guru lagu    : e
3)      Asonansi vokal            : a                    - Alitrasi konsonan      : t, k, dan l
4)      Diksi arkeik     : omat ulah rek talangke, artinya: awas jangan dinanti-
  Nanti atau terlalu santai
d.      Piwurukna regepkeun ku sarerea
1)      Formula sintaksis
Piwurukna: S, verba
Regepkeun: P, verba, perbuatan
Ku sarerea: O, nomina, penerima     
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 12
                          - Guru lagu   : a
3)      Asonansi Vokal         : u                                - Alitrasi konsonan      : k
4)      Diksi arkeik   : -
(Tandak/Panambih)
3.      Bait ke tiga
a.      Hayu batur urang diajar sing suhud
1)      Formula sintaksis
Hayu batur: ket.ajakan
Urang: S, nomina, pelaku
Diajar: P, verba, perbuatan
Sing suhud: ket.cara   
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma   :
b)      Rima        : - Guru Wilangan       : 12
                          - Guru lagu    : a
3)      Asonansi vokal            : u                                - Alitrasi konsonan      : r
4)      Diksi arkeik     : -
b.      Ulah lalawora
1)      Formula sintaksis: tidak ada karena suktur sintaksisnya tidak lengkap
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 6
                          - Guru lagu                : a
3)      Asonansi Vokal           : u                                - Alitrasi konsonan      : l
4)      Diksi arkeik     :  ulah lalawora, artinya jangan main-main atau jangan
  tidak serius
c.       Bisi engke henteu naek
1)      Formula sintaksis: tidak ada karena suktur sintaksisnya tidak lengkap
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 8
                           - Guru lagu   : e
3)      Asonansi vokal            : e                     - Alitrasi konsonan     : k dan n
4)      Diksi arkeik     : bisi engke henteu naek, artinya: takut nanti tidak naik
  kelas
d.      Batur seuri urang sumegruk nalangsa
1)      Formula sintaksis
batur, urang: S, nomina, pelaku
seuri, sumegruk: P, Verba, perbuatan
nalangsa: pelengkap   
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 12
                          - Guru lagu    : a
3)      Asonansi vokal            : a dan u                      - Alitrasi konsonan      :  r
4)      Diksi arkeik     : -
4.      Bait keempat
a.      Hirup mencil embung ngahiji jeung batur
1)      Formula sintaksis
S: Hirup mencil
P: Embung ngahiji
Ket.penyerta: Jeung batur
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan rima      :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 12
  - Guru lagu              : u
3)      Asonansi vokal: u dan I                     - Alitrasi konsonan: r, h, m, dan n
4)      Diksi arkeik : hirup mencil, artinya: hidup menyendiri/terpisah

b.      Eta goreng pisan
1)      Formula sintaksis
Eta: S, verba,
Goreng pisan: P, Adjektiva, keadaan
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan rima      :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 6
                          - Guru lagu                : a
3)      Asonansi vokal            : a dan e                       - Alitrasi konsonan      :   
4)      Diksi arkeik     : -
c.       Moal aya gotong royong
1)      Formula sintaksis
Moal aya: P, verba, keadaan
Gotong royong: S, verba,
2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 8
                          - Guru lagu    : o
3)      Asonansi vokal            : o                                - Alitrasi konsonan      : y
4)      Diksi arkeik     : moal aya Gotong royong, artinya: tidak ada saling
 tolong menolong atau kebersamaannya.
d.      Mending mana rea batur jeung nyorangan
1)      Formula sintaksis
S: rea batur jeung nyorangan
P: mending mana

2)      Analisis bunyi
a)      Irama dan ritma     :
b)      Rima          : - Guru Wilangan       : 12
                          - Guru lagu                : a
3)      Asonansi vokal            : u                                - Alitrasi konsonan      : r
4)      Diksi arkeik     : -


H.    Konteks Pertunjukan
Biasanya pupuh pucung ini dinyanyikan pada saat kegiatan  pembelajaran disekolah. Selain untuk kegiatan pembelajaran disekolah, pupuh pucung ini biasanya dinyanyikan dalam rangka acara kesenian dan kebudayaan, juga pupuh pucung ini di nyanyikan dalam acara perlombaan.

I.       Fungsi Pupuh Pucung
Pupuh Pucung ini berfungsi sebagai salah  satu sarana pendidikan, maksudnya yaitu sebagai salah satu media pembelajaran siswa di sekolah maupun dimasyarakat. Selain sebagai salah satu media pendidikan, pupuh Pucung ini berfungsi sebagai hiburan yang mendidik bagi anak-anak dan juga sebagai pelestarian kesenian dan kebudayaan.

J.      Kelebihan dan Kekurangan Pupuh Pucung
Kelebihan pupuh pucung ini dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan baik di sekolah, di rumah atau dilingkungan masyarakat. Karena berisi tentang ajakan dan nasehat-nasehat supaya anak-anak sungguh-sungguh dalam belajar dan juga pupuh pucung ini mengajarkan pada anak-anak supaya belajar bergotong royong atau pentingnya kebersamaan dengan sesama manusia. Dari segi bahasa, pupuh pucung ini mudah dimengerti oleh anak-anak karena menggunakan bahasa yang transparan atau langsung.
Kekurangan pupuh pucung ini yaitu, pupuh ini hanya bisa digunakan pada jenjang pendidikan SD saja, tidak mencakup seluruh jenjang pendidikan karena kata-kata yang terdapat dalam pupuh ini lebih tertuju untuk anak-anak yang masih kecil. Memsang nasehat-nasehat yang ada dalam pupuh ini dapat juga di gunakan oleh remaja/dewasa, tetapi pada kenyataannya pupuh pucung ini lebih sering ditujukan dan dinyanyikan oleh anak-anak SD. Selain itu dari segi pemilihan kata, kurang menonjolkan diksi atau unsur artistik katanya. Sehingga kata-kata atau bahasa yang terdapat dalam pupuh pucung ini terkesan biasa saja.

K.    Perkembangan Pupuh
Seiring berjalanya waktu pupuh memiliki perkembangan. Baik dari bentuk, pola syair,  musik pengiring dan lain-lain, diantarnya yaitu:
1. Dalam Bentuk Cianjuran
Cianjuran atau asal istilahnya seni mamaos, merupakan salah satu seni Sunda yang berasal dari Cianjur. Alat music yang digunakan hanya kecapi saja.
2. Dalam Bentuk Ciawian
Ciawian merupakan salah satu kesenian Sunda yang berasal dari Ciawi Tasikmalaya. Bentuk ciawian hanya dibawakan oleh vokal saja. lagu-lagunya pun umumnya dalam laras salendro tetapi untuk pola syair menggunakan pola pupuh.
3. Dalam Bentuk Cigawiran
Cigawiran adalah salah satu jenis seni suara sunda dalam bentuk tembang. Kesenian ini lahir di daerah Cigawir Garut. Yang merupakan lahir dari daerah pesantren Cigawir. Yang memiliki fungsi untuk pembelajaran agama, banyak menggunakan laras pelog, madenda, dan salendro, pola sastranya menggunakan pupuh misalnya dalam lagu Cigawiran rumpaka pupuh dangdanggula.


4. Dalam Bentuk Pupuh Raehan
Perkembangan yang paling terbaru yaitu pupuh kreasi hasil karya dosen Karawitan STSI Bandung H. Yusuf Wiradiredja,S.Kar. M.Hum yang sering di sapa Yus Wiradiredja ini, merupakan perkembangan yang berbeda dari Cianjuran, Cigawiran dan Ciawian. Bedanya Pupuh kreasi ini dengan pupuh yang umum yaitu pada pupuh kreasi alat musik yang digunakan lebih banyak diantaranya kecapi, kendang, dan instrumen-instrumen sendiri hasil modifkasi Yus Wiradiredja sehingga menciptakan suasana yang lain sedangkan pupuh biasanya tanpa iringan atau hanya menggunakan kecapi saja.
Tetapi zaman sekarang sangat berbanding terbalik dengan zaman dahulu. kelestarian pupuh saat ini sudah sedikit tersingkirkan di masayarakat, khususnya di masyarakat suku Sunda. Sekarang sudah hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui dan melestarikan kesenian pupuh. Keberadaan pupuh ini sudah pulai terlupakan oleh generasi sekarang, dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu: pertama, sekarang-sekarang ini merupakan era globalisasi, sehingga kebudayaan-kebudayaan luar negeri dengan mudahnya masuk ke Negara kita dan mempengaruhi remaja-remaja saat ini untuk mengikuti kebudayaan luar sehingga kebudayaan yang dimilikinya terlupakan. Kedua, anggapan remaja-remaja saat ini bahwa lagu-lagu pupuh itu merupakan lagu zaman dulu “jadul” dan hanya cocok untuk kalangan orang tua saja dan beranggapan bahwa tembang pupuh ini kurang modern dibandingkan dengan lagu-lagu pop saat ini yang lebih modern baik dari segi nada ataupun liriknya. Ketiga, lingkungan masyarakat, keluarga dan sekolah kurang mendukung dalam pelestarian kesenian pupuh ini, sehingga wajar saja apabila remaja saat ini kurang atau bahkan tidak mengetahui dan meminati pupuh.
Apabila keadaan ini terus saja dibiarkan, lama-kelamaan kesenian tradisional pupuh ini akan terancam punah atau bisa saja di klaim oleh Negara lain, seperti kasus reog Ponoorogo tempo dulu. Salah satu upaya kita untuk tetap mempertahankan kesenian pupuh, kita harus bersama-sama mendukung pelestarian pupuh ini, diantaranya yaitu dengan cara: mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan pupuh, membuat atau mendukung acara-acara yang berkaitan dengan pupuh, memperkenalkan kesenian pupuh ini pada generasi muda dan memberikan motivasi-motivasi pada mereka supaya mereka menyayangi dan mencintai pupuh dan kesenian tradisional lainnya.

Analisis Naskah Drama


Nama: Yuyun Suryani
NMP: 102121113
Kelas: 2C
Naskah Drama: Ah, Matjam-matjam Maoenja
Karya: Moliere (Versi Indonesia oleh Asrul Sani, Adaptasi oleh Estebe)

1.      Kajilah naskah drama yang telah saudara baca dengan menggunakan pendekatan objektif, mimesis, ekspresif dan pragmatis!
A.    Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif  yaitu pendekatan yang menerapkan analisis stuktural terhadap karya sastra dengan prinsip kerja utama membongkar dan memaparkan unsur-unsur secara cermat dan sedetail mungkin, kemudian disusun kembali secara bersamaan guna mendapatkan hasil pengertian yang menyeluruh.
Analisis Stuktural
1.      Tema
naskah drama ini bertemakan tentang sosial, yaitu menceritakan tentang kehidupan sehari-hari di masyarakat yang masih membeda-bedakan seseorang dari harkat martabat dan derajatnya, serta masyarakat yang sangat terlena denga pujian-pujian yang diarahkan kepadanya.
2.      Tokoh dan penokohan
a.       Raden jaka sambada: baik, penurut, tidak pemarah
b.      Raden Rangga Kusuma: gampang marah, cerdas dan pendendam
c.       Raden panji Rumiang: penurut, pembohong
d.      Raden Kelana Abiseka: penurut, pembohong
e.       Tuan Hartawan Kartawan: baik, tidak sombong, tegas, dan bijaksana
f.       Chandra Asih: sombong, egois, centil
g.      Otih Kartika: sombong, egois, centil
h.      Mansoor: penurut pada tuannya
i.        Pemain biola: penurut
3.      Alur dan Pengaluran
a.       Alur yang ada dalam naskah ini yaitu menggunakan alur maju
b.      Tahapan-tahapan alur
1)      Tahapan eksposisi
pada awalnya Rangga kusuma berbincang dengan Jaka sambada, berbincang tentang kedatangan mereka berdua ke kediaman seorang putrid dan keponakan dari tuan Hartawan Kartawana yang bernama Chandra Asih dan Otih Kartika. Tetapi ketika Rangga Kusuma dan Jaka Sambada datang kerumahnya, kedatangan kedua bangsawan tersebut tidak ditema dengan baik oleh kedua wanita tersebut.
2)      Tahap pertikaian
Rangga kusuma merasa tersinggung dengan perbuatan Otih dan Chandra Asih karena telah memperlakukan tidak baik terhadap mereka, kemudian Rangga kusuma berniat membalas perbuatan kedua wanita tersebut dengan cara menyuruh pelaian-pelaian meraka yang bernama Panji Rumiang dan Kelana Abiseka untuk datang ke rumah Chandra Asih dan Otih Kartika, berpura-pura menjadi seorang pangeran yang kaya raya dan gila sopan santun untuk mendekati serta membohongi kedua wanita tersebut.  
3)      Tahap komplikasi
Ketika tuan Kartawan memerintahkan pelayannya yang bernama Mansoor untuk memanggil anak dan keponakannya yaitu Candra asih dan Otih Kartika. Tuan Kartawan marah kepada anak dan kemenakannya tersebut karena telah memperlakukan tamu yang berkunjung kerumahnya yaitu Raden Jaka sambada dan Rangga kusuma. Padahal kedua pria yang berkunjung tersebut adalah seorang bangsawan yang kaya raya, yang berniat baik ingin menikahi kedua wanita tersebut.
Keesokan harinya datanglah Panji Rumiang dan kelana Abiseka ke rumah Otih dan candra Asih. Berpura-pura untuk menjadi seorang pangeran yang kaya raya dan menjadi seorang yang bijak dan gila sopan-santu, untuk merayu Chandra kirana dan Otih Karika. Ketika mereka sedang berbincang-bincang maka dipanggilag pemain biola untuk menghibur mereka semua.  
4)      Tahap klimaks
ketika diketahui bahwa Panji Rumiang dan Kelana Abi Seka bukanlah seorang dari kalangan bangsawan seperti yang mereka katatakn pada Chandra asih dan Oti Kartika, tetapi mereka adalah pelayan-pelayan Raden Jaka sambada dan Raden rangga kusuma. Setelah itu Chandra Asih dan Otih Katrika marah dan merasa sangat dipermalukan oleh Raden Jaka Sambada dan Raden Rangga Kusuma.
5)      Tahap peleraian
Tuan hartawan Kartawan memarahi anaknya Chanda Asih dan Keponakannya Otih Kartika atas perbuatan yang telah mereka lakukan. Chandra Asih merasa kesal dan mengusir pelayan-pelayan itu dari rumahnya.
6)      Tahap akhir
Akhirnya dendam Raden Jaka Sambada Dan raden Rangga sambada dapat terbalaskan kemudian Chandra Asih dan Otih Kiranapun mendapat ganjaran terhadap perbuatan yang telah mereka lakukan.
4.      Latar
-          latar tempat: di rumah Raden rangga Kusuma dan di rumah Tuan Kartawan Hartawa
-          Latar Ruang: di ruang tamu Tuan kartawan Hartawan
-          Latar suasana: santai dan  menegangkan
5.      Sudut pandang
Sudut Pandang yang terdapat dalam naskah ini yaitu yaitu sudut pandang orang ke tiga, terarah karena sejak awal cerita sampai akhir pengarang terarah pada kelakuan yang dilakukan oleh Chanra Asih dan Otih kartika.
6.      Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan yaitu lebih mementingkan pemilihan bahasa yang digunakan oleh para tokoh seperti, pada dialog yang diucapkan oleh Chandra asih “cepat hantarkan kemari guru nasehat kecantika” yang berarti cermin, kemudian ada ungkapan “peralatan untuk berbincang” yang berarti kursi, kemudian dalam naskah ini juga pengarang menapilkan lagu-lagu yang menggunakan pemilihan kata.
B.     Pendekatan mimesis
Pendekatan mimesis adalah pendekatan menganalisis karya sastra yang betolak dari anggapan karya sastra merupakan tanda atau lambang dari kenyataan sebenarnya. Sehingga analisis mimesis ini yaitu menganalisis dengan menelusuri kenyataan realitas yang terdapat dalam naskah drama setelah dilakukannya analisis stuktural, karena dalam pembuatan karya sastra pasti tidak terlepas dari imajinasi atau realita yang ada.
Realita yang ada dalam naskah ini yaitu tindakan yang dilakukan oleh anak dan keponakan tuan Hartawan Kartawan yaitu Chandra Asih dan Otih Kartika. Mereka selalu membeda-bedakan seseorang dari harkat, martabat dan kekayaan seseorang, mereka sangat mengagung-agungkan seseorang yang memiliki kekayaan dan jabatan yang tinggi, kemudian mereka menganggap remeh dan hina pada orang-orang yang tidak memiliki kekayaan dan harta benda.
Dalam realita sekarangpun masih banyak orang-aorang yang mengagung-agungkan orang-orang yang memiliki harta benda dan jabatan yang tinggi, mereka lebih senang menilai seseorang dari luarnya saja tetapi mereka tidak memperdulikan pada hati seseorang. Terkadang mereka semua tertipu dan dibohongi oleh orang lain karena penampilan serta ucapan yang orang lain utarakan.
Kemudian realita yang ada dalam naskah drama ini yaitu tindakan yang dilakukan oleh Chandra Asih dan Otih Kartika, tidak menyukai orang-orang yang langsung mengutarakan perasaannya tanpa basa-basi terlebih dahulu dan langsung mengutarakan niat baiknya untuk menikahi mereka berdua tapa adanya tahap pendekatan atau pacaran terlebih dahulu.
Pada kenyataannya sekarangpun begitu banyaknnya remaja atau wanita yang lebih senang melakukan pendekatan atau pacaran terlebih dahulu dengan orang yang dicintainya, kebanyakan remaja zaman sekarang lebih senang mendapatkan gombala-gombalan atau rayuan-rayuan dari orang yang dicintainya, mereka kurang menyukai lelaki yang langsung mengutarakan niat baiknya untuk melakukan pernikahan tanpa adanya tahap pacaran terlebih dahulu, mereka beranggapan perbuatan tersebut terkesan sangat terburu-buru.
Selain itu kenyataan yang ada dalam naskah ini yaitu perbuatan Chandra Asih dan Otih Kartika yang mengganti namanya menjadi Rossana dan Anetta, karena menuru mereka nama tersebut lebih indah kedengarannya. Perbuatan tersebut pada zaman sekarangpun banyak dilakukan oleh para remaja-reamaja, perbuatan tersebut dilakukan supaya nama mereka menjadi lebih modern dan menambah tingkat kepercayaan diri mereka untuk bergaul dengan teman-teman lainnya.
C.     Pendekatan Ekspresif
Pendekatan ekspresif ini yaitu pendekatan yang menganalisis dari segi pengarang, karena ada yang beranggapan bahwa karya sastra adalah pemikiran, pandanga dan perasaan pengarang. Pengarang adalah orang yang paling penting dalam proses penciptaan drama, kemudian pengarang adalah sebagai penentu watak, rumusan maslah dan menggunakan bahasnyanya sendiri. Oleh karena itu perlu suatu karya sasra atau drama diselidiki dari sudut pengarangnya dan juga untuk mengetahui motifasi pengarang menggunakan alur tersebut.
Alur yang dibuat oleh pengarang, tidak memilih alur yang sangat rumit, tetapi pengarang memilih alur yang biasa saja. Pengarang memilih alur tersebut supaya terkesan lebih natural seperti dalam kehidupan nyata, sehingga pembaca lebih mudah berimajinasi dengan alur cerita tersebut dan juga supaya jiwa pembaca dapat masuk ke dalam cerita itu.
Pada naskah drama ini pengarang ingin menyampaikan pesan pada pembaca bahwa perbuatan memebeda-bedakan seseorang dari segi harta dan jabatan memang sudah dimulai dari zaman dahulu, perbuatan tersebut masih berlangsung sampai zaman sekarang. Pengarang juga ingin menyampaikan pada pembaca untuk menyadarkan orang-orang seperti yang diperankan oleh Chandra Asih dan Otih Kirana tidak dapat mengguanakan hanya dengan kata-kata saja, karena apabila hanya menggunakan kata-kata saja tidak akan mampu mengubah prilaku mereka, tetapi salah satunya harus dilakukan dengan cara Raden Jaka sembada yaitu menjebak mereka berdua sepaya mereka sadar terhadap prilaku yang mereka perbuat.
Selain itu pengarang juga ingin mengingatkan pada pembaca, bahwa remaja-remaja sekarang lebih menyenangi orang-orang atau laki-laki yang meluluhkan hati perempuan hanya dengan menggunakan kata-kata yang dapat menyenangkan hati atau kat-kata rayuan. Kebanyakan remaja zaman sekarang terlalu terlena oleh pujian-pujian yang diarahkan pada mereka, padahal kata-kata tersebut hanya untuk membohongi mereka saja.
D.    Pendekatan Pragmatis
Pendekatan ini berpandang bahwa unsur penentu dalam pemberian makna sebuah karya sastra adalah pembaca. Hal ini disadari karena adanya perbedaan pendapat dan penafsiran para pembaca terhadap karya sastra yang sama. Perbedaan pendapat atau penafsiran tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu: (1) hakikat pada pembaca: jenis kelamin, pekerjaan, usia, kercayaan dan agama; (2) kepekaan imajinasi, intelektualitas dan pandangan hidup; (3)minat dan kesanggupanpembaca; dan (4) kondisi pembaca pada saat proses membca. Yang perlu dilakukan dalam penyelidikan ini yaitu diselidiki sejauh mana pembaca mendapatkan manfaat, pengetahuan dan kenikmatan.
menurut pembaca cerita yang ada dalam naskah drama ini sangat menarik dan alur ceritanya dapat diterima secara logis dan mudah dipahani oleh pembaca. Setelah membaca naskah ini pembaca mendapatkan manfaat dari karakter tokoh-tokoh yang ada dalam naskah ini yaitu seperti pada karakter Chadra Asih  dan Otih Kartika yang memiliki karakter sombong, dan selalu membeda bedakan seseorang dari harta dan jabatan yang dimiliki seseorang, selain itu Chandra dan Otih ini juga memiliki karakter yang senang di puji tentang diri mereka. Kemudian dari tokoh Raden Raden jaka kusuma, pembaca mendapatkan pelajaran dari karakter yang digambarkan pada sosok Raden Jaka sambada yang pendendam, pemarah dan cerdas, karena ia membalas rasa sakit hatinya tidak dengan menggunakan kata-kata tetapi memerintahkan pelayannya supaya berpura-pura penjadi seorang bangsawan yang kaya raya dan gila sopan santun.
Dari naskah Drama ini pembaca mengetahui bahwa perbuatan membeda-bedakan seseorang dari harkat, martabat dan jabatan terjadi sejak zaman dahulu dan sampai sekarang orang-orang masih membeda-bedakan seseorang dari harta kekayaan dan jabatan yang dimiliki.
Pembaca juga sangat menikmati setiap alur yang ditampilkan dalam naskah drama ini karena alur tersebut sangat menarik sehingga dapat membawa imajinasi pembaca pada cerita atau alur yang disajikan oleh pengarang. Menurut pembaca kejadian yang menarik yang terdapat dalam naskah drama tersebut yaitu ketika diketahuinya penyamaran Panji Rumiang dan Kelana Abi Seka bahwa mereka itu bukanlah seorang dari kalangan bangsawan tetapi mereka adalah seorang pelayan dari Raden Jaka Sambada dan Raden Rangga Kusuma.
2.      Galilah nilai-nilai didaktik, social dan budaya pada naskah yang saudara telah baca!
Nilai didaktik atau nilai pendidikan yang ada dalam naskha drama ini yaitu siswa mendapatkan  pelajaran bahwa tidak boleh membeda-bedakan seseorang dari pangkat atau derajat yang dimiliki oleh orang tersebut, karena kita sebagai manusia di mata Tuhan adalah sama yang membedakan setiap manusia hanyalah amal perpuatannya. Setelah membaca naskah ini, siswa juga dapat mengambil pelajaran bahwa janganlah ia memiliki sifat sombong seperti yang digambarkan pada tokoh Chandra asih dan Otih Kirana. Jadilah orang yang bijaksana seperti yang digambarkan pada tokoh Tuan hartawan Kartawan.
Nilai sosial yang ada dalam naskah drama ini yaitu, di zaman sekarang kebanyakan orang memang memandang seseorang dari harta kekayaann yang mereka miliki. Orang-orang seperti itulah yang dianggap sebagai orang yang terhormat, sedangkan orang-orang yang tidak memiliki itu semua dianggap sebagai orang yang diremehkan dan dipandang dengan sebelah mata. Seharusnya apabila kita berada diatas kita harus saling tolong menolong dan berbagi dengan orang-orang yang tidak memiliki keberuntungan seperti kita.
Nilai budaya yang ada dalam naskah ini yaitu dipelajarinya berbicara sopan santun dengan sesama manusia tanpa melihat derajat atau hata yang dimilikinya. Perlu menghargai pemberian yang orang tua kita berikan, misalnya saja pemeberian nama yang diberika kepada kita, kita harus memiliki rasa bangga dengan nama yang  diberikan kepada kita tanpa harus mengubah nama tersebut sekehendak atau sekeinginan kita. Nilai budaya yang ada dalam naskah ini yaitu: memberitahukan kepada sisiwa bahwa pada zaman dulu Negara Indonesia ini bukanlah Negara yang dipimpin oleh presiden tetapi oleh raja, sehingga nama-nama orang yang termansyur pada zaman dulu menggunakan nama Raden.
3.      Analisislah naskah drama yang saudara baca berdasarkan kriteria bahan ajar, tentukan pada jenjang pendidikan manakah naskah drama tersebut cocok diajarkan!
Naskah drama ini dapat digunakan sebagai bahan ajar di sekolah, karena naskah drama ini memiliki banyak manfaat, diantaranya yaitu berisikan nilai didaktik, nilai social dan nilai budaya, untuk membentuk kepribadian dan kedewasaan para siswa. Seperti jangan memiliki sifat sombong, harus saling menghargai dengan sesama manusia tanpa membeda-bedakan dari hal apapun dan juga jangan terlalu terlena dengan pujian-pujian yang diarahkan kepada kita.
Naskah drama ini bertemakan sosial dan juga tentang percintaan, yaitu kisah Raden Rangga Kusuma dan Raden Jaka Sambada yang berniat akan menikahi Chandra Asih dan Otih Kartika, tetapi niat kedua laki-laki itu tidak tersampaikan karena langung ditolak oleh kedua wanita tersebut karena kedua pangeran itu  dianggapnya adalah lelaki dari keluarga biasa saja yang tidak memiliki harkat dan jabatan. Sehingga naskah drama ini cocok diberikan pada jenjang SMA (Sekolah Menengah Atas) dan sederjat, karena siswa SMA sudah meranjak ke masa-masa remaja yang sudah mengenal tentang percintaan pada lawan jenis, kemudian siswa SMA juga pada masa-masa remaja emosi kejiwaannya masih labil, sehingga naskah ini dapat mengajarkan pada siswa perlunya mengontrol emosi yang ada pada dirinya dan juga harus bisa mengendalikan keegoismean yang ada dalam diri mereka supaya bisa saling menghargai sesama manusia tanpa melihat harkat, bartabat dan kekayaan yang dimiliki oleh orang itu.